Agar Survive, Dewan Minta PT Gresik Migas Efisiensi

GN/ASEPTA Y PERMANA HEARING: Komisi B DPRD Kabupaten Gresik menggelar hearing atau dengar pendapat dengan manajemen PT Gresik Migas, Selasa (2/2/2016) lalu.

GN/ASEPTA Y PERMANA
HEARING: Komisi B DPRD Kabupaten Gresik menggelar hearing atau dengar pendapat dengan manajemen PT Gresik Migas, Selasa (2/2/2016) lalu.

GRESIK – Dalam hearing dengan PT Gresik Migas, Komisi B DPRD Kabupaten Gresik, meminta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu melakukan efesiensi. Hal ini buntut dari turunnya suplai gas yang diterima Gresik Migas dari PHE WMO.

“Sebelumnya, Gresik Migas mendapatkan pasokan 17 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day), tapi setelah ada kasus MKS (Media Karya Sentosa) tahun lalu, hanya 3 MMSCFD saja yang bisa diserap oleh Gresik Migas,” Faqih Usman, Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Gresik, saat hearing, Selasa (2/2/2016).

Sekadar informasi, dalam kontrak Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang sudah habis 31 Desember 2015 lalu, pasokan gas dari PHE WMO diberikan ke Gresik Migas.

Alurnya kemudian oleh Gresik Migas dijual ke PT Surya Cipta Internusa (SCI). Oleh SCI gas diteruskan ke MKS, hingga akhirnya sampai pada end user, yaitu PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Unit Pelayanan (UP) Gresik.

Padahal sebesar 14 MMSCFD gas dari total 17 MMSCFD yang diterima Gresik Migas dialirkan ke SCI. Karena ada kasus MKS di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gas itu tidak terserap. “Karena yang terserap waktu itu hanya 3 MMSCFD, maka sekarang Gresik Migas hanya diberi 3 MMSCFD,” ungkapnya.

Apalagi, tambahnya, harga yang diberikan PHE WMO naik dibanding kontrak sebelumnya. “Sebelumnya harganya 7,11 dolar Amerika Serikat per MMBTU (Million British Thermal Unit). Saat ini belum ada kesepakatan, tapi harga yang dipakai untuk penagihan hingga ada kesepakatan harga yang baru, yaitu 7,45 dollar Amerika Serikat,” ujarnya.

Agar bisa survive atau bertahan, tambah Faqih, Gresik Migas harus melakukan efesiensi. “Bisa efesiensi gaji Direktur atau lainnya, ini yang paham manajemen Gresik Migas sendiri,” tandasnya.

Sedangkan, Jumanto, Anggota Komisi DPRD Kabupaten Gresik menambahkan, komisinya akan membantu proses lobi dengan sejumlah pihak terkait, mulai dari PHE WMO, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), atau lainnya. “Ini kami maksud agar Gresik Migas dapat memiliki pasokan lebih, karena dengan harga sekarang, mendapat suplai 10 MMSCFD baru bisa break event point (BEP),” ungkapnya.

Sementara itu, Haryadi, Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT Gresik Migas memastikan, akan ada efesiensi di internal manajemen. “Kalau perlu ada pengurangan direktur,” tandasnya.

Selain itu, dia berharap Komisi B membantu proses lobi, karena besaran pasokan dan harga dari PHE WMO masih belum final. “Jumlah pasokan dan harga masih sementara, masih bisa diupayakan. Kami berharap dewan membantu agar lebih maksimal,” tandasnya.* sep/adv

 

Tag: