Susah Payah Relakan Tenaga Demi Dampingi Anak Putus Sekolah

Tak banyak jumlahnya barangkali mahasiswa seperti Ricki Antono Budiman. Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya banyak menyisihkan waktunya mendampingi anak putus sekolah melalu program Campus Social Responsibility (CSR). Seperti apa?

Oleh: FAKHRUR ROZIQ

Mahasiswa di Indonesia tak terhitung jumlahnya, namun mahasiswa yang memiliki empati dan peduli terhadap anak-anak terlantar cuma segelintir saja. Ricki Antono Budiman adalah salah satu di antaranya. Berkat kepeduliannya terhadap nasib anak telantar ia terpilih sebagai Juara I program CSR 2015 yang diselenggarakan Dinas Sosial Pemkot Surabaya dengan Kategori Proactive Campus Program Pendampingan Anak Bermasalah Sosial.
Namun bukan hadiah atau gelar juara yang menjadi tujuan utamanya. “Hadiah atau bingkisan tidak begitu saya butuhkan. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana saya bisa bermanfaat bagi masyarakat,” kata Ricki ditemui Global News, Rabu (20/1/2016).
Melalui program CSR, Ricki menjadi kakak asuh Andhika Setyadi (14) warga Kelurahan Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya. Bukan pekerjaan mudah. “Mendekati keluarga adik Andhika butuh tiga bulan,” ujar Ricki.
Perjuangan Ricki membina Andhika benar-benar dimulai dari nol. Sebab, saat Ricki hadir dalam kehidupannya, Andhika bisa dikatakan masih minim dalam pengetahuan agama dan ilmu umum. “Bayangkan coba sudah usia 14 tahun belum hafal lafaz-lafaz shalat,” kata Ricki.
Secara pendidikan Andhika memang minim, karena malas untuk sekolah. Ia, terus memberikan saran dan motivasi tentang masa depan dan pentingnya pendidikan ketika `adik damping` menjadi dewasa. Selain itu ia, memberi saran dan pandangan akan pentingnya pendidikan untuk masa depan anaknya. Ia juga melibatkan orang tua menjadi penggerak utama dalam mengembalikan anaknya ke sekolah lagi.
“Awalnya saya tidak klop dengan Andika. Perlu tiga bulan untuk akrab dengan Andika. Hingga pada suatu hari saya ajak ia ke kampus Ubhara untuk sekadar jalan-jalan. Ada yang menarik kala itu, ketika saya ajak shalat ternyata Andhika belum hafal bacaan shalat. Di situlah saya mencoba untuk lebih mendekati Andika agar bisa dituntun bacaan shalatnya,” cerita Ricki.
Satu tahun tinggal bersama keluarga Andhika, memberikan khazanah pengetahuan baru bagi Ricki yang tidak ada di bangku perkuliahan. Sesi curhat, ngelesi, dan memberikan arahan baik pada keluarga Andhika menjadi tujuan penting dalam program tersebut. “Niat saya, selain melaksanakan program atau amanah dari Pemkot Surabaya dan donatur, saya juga ingin memberikan yang terbaik bagi kehidupan orang lain. Lebih-lebih dalam ranah pendidikan,” terang Ricki.

SABAR DAN CERDAS
Pekerjaan mencapai hasil terbaik dan memuaskan, jika dilakukan dengan sabar dan cerdas. Sabar maksudnya tidak cepat menyerah sebelum mendapatkan hasil yang dicapai. Sedangkan cerdas, paling tidak harus bisa menyelesaikan sederet masalah yang terjadi. “Sudah banyak dijelaskan di berbagai kitab atau khazanah, bahwa sabar bisa menghasilkan yang terbaik,” kata Ricki.
Lanjut Ricki, tiga bulan pertama saya harus susah payah untuk mendekati Andhika. Mungkin, jauh lebih gampang melakukan pendekatan jika anak tersebut memang hidup di lingkungan baik dan teman-teman yang berpendidikan. Tapi Andhika berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang hidup dalam dekapan teman-teman berprestasi.
“Tiga bulan saya ajak jalan-jalan. Pertama saya ajak jalan-jalan ke kampus, dan saya bawa ke perpustakaan, supaya ia tahu bahwa membaca merupakan kebutuhan yang paling penting untuk masa depan,” kata Ricki.
Doa dan pantang menyerah menjadi penguat di saat melakukan aktivitas bersama keluarga Andhika. Selama satu tahun masuk dalam dunia Andhika. Konsultasi dengan guru sekolahnya, teman-temannya, guru ngajinya, membayar uang sekolah, baju sekolah hingga ngelesi menjadi tugas pokok Ricki, dalam keluarga barunya. Ricki selalu berharap, kelak dewasa bisa meniru dirinya dan bisa berguna bagi masyarakat.

KEMBALI SEKOLAH
Tak ada usaha menghianati hasil, itulah pepatah klasik yang masih tergiang di telinga Ricki. Setahun bersusah payah mendampingi, akhirnya Andhika kembali menemukan sinar kehidupan, yakni kembali pada dunia pendidikan. Bahkan, saat ini Andhika melanjutkan SMA dan diusulkan mendapatkan beasiswa dari Ubhara. “Mungkin, Andhika nantinya akan saya carikan beasiswa di Ubhara. Doakan saja,” imbuhnya.
Tentunya, hingar-bingar tampak dari raut muka Andhika, karena akan diusulkan mendapatkan beasiswa di Ubhara, kampus swasta ternama di Surabaya. Keikhlasan dan kecerdasan sosok Ricki sudah terbukti, tidak hanya hidup dalam dunia teori saja atau dunia semu. “Saya senang mas bisa membantu masyarakat yang kurang mampu. insyaAllah saya akan berangkat ke Thailand untuk melanjutkan S-2,” katanya.
Mengenai anggaran, Ricki menuturkan, selama satu tahun menghabiskan kisaran Rp Rp 9.000.000. Adapun anggaran dari donatur Rp 13.000.000. Uang tersebut digunakan untuk membiayai aktifitas CSR selama satu tahun. “Saya harus bertanggung jawab semua mas, termasuk anggaran yang ada. Bahkan, tahun ini sisa lebih Rp 3.000.000an ,” kata Ricki.

PERAN DOSEN
Mengutip dari kata-kata H. Nurawi, donatur CSR Ubhara Surabaya, pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang dilaksanakan secara tim. Tentunya, kesuksesan sosok Ricki tidak lepas dari peran kampus, yakni Drs. Edy Prawoto, Rektor Ubhara Surabaya yang mendukung penuh aktivitas yang dilakukan oleh Ricki dalam mengaktualisasikan nilai Tri Dharma perguruan tinggi.
Ubhara tidak hanya menciptakan mahasiswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga menciptakan sosok mahasiwa yang cerdas secara emosional. “Mahasiswa juga harus peduli terhadap masyarakat kecil. Masyarakat dan mahasiswa harus bersinergi membangun bangsa,” kata Edy.
Sudah saatnya, kampus dan masyarakat bersama-sama memmbangun negeri berkarakter, terutama masyarakat kelas bawah. Mahasiswa yang masyhur dengan sebutan kalangan intelektual, sementara masyarakat bawah harus tidak ada jarak. Artinya, semangat mahasiswa untuk melongok kehidupan masyarakat kelas bawah harus ditinggkatkan, agar kampus bisa bermanfaat secara signifikan bagi masyarakat. (*)