Semen Indonesia Hadapi MEA Dengan Peningkatan Produksi

Semen Indonesia

Semen Indonesia

 

Jatim – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menilai pemberlakuan  pasar bebas di kawasan Asean 2015 atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan membuka peluang pasar melalui peningkatan produksi.

Dirut Semen Indonesia, Suparni mengatakan, terkait pasar bebas di kawasan Asean, industri semen sebenarnya sudah terjadi pada tahun 1991. Pada waktu itu, Indonesia sudah memberlakukan bea masuk 0 persen bagi negara Asean yang melempar produk semennya ke pasar nasional. Kendati negara lain, katanya, seperti Vietnam, Philipina, dan Thailand belum memberlakukan kebijakan serupa.

“Bagi Semen Indonesia, berlakunya MEA bukan momok melainkan peluang pasar. Meskipun negara kompetitor seperti Vietnam dan Thailand memiliki kemampuan sebagai produsen semen terbesar,” ujarnya kepada wartawan saat HUT ke-3 Semen Indonesia di Gresik, Kamis (7/1).

Diakui Suparni, saat ini di kawasan negara Asean yang menjadi produsen semen ada tiga negara: Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Sisanya merupakan negara pengimpor semen. Sehingga, masih ada negara lain yang dijadikan sebagai pasar semen. “Konsumsinya masih cukup tinggi Meskipun kran pasar bebas di Asean dibuka, kami sudah siap mengingat persaingan semen di Tanah Air bukan lagi bersifat global, melainkan sudah regional,” tuturnya.

Menurut Suparni, dari sisi kapasitas, industri semen di Asean ceruk pasarnya masih sangat besar. Masih ada 31,5 juta ton peluang pasar yang bisa diisi. Dari jumlah itu, market share Semen Indonesia 17 persen di kawasan Asean. Sedangkan secara nasional 42 hingga 44 persen. “Kami punya keunggulan dan banyak kekuatan, seperti jaringan distribusi yang luas dan didukung sejumlah anak perusahaan serta 26 packing plant,” paparnya.

Tahun lalu, pertumbuhan penjualan perusahaan dengan kode emiten SMGR itu sedikit tertekan akibat lesunya pertumbuhan ekonomi nasional. Selama 9 bulan pertama 2015, perusahaan ini hanya mampu menjual 18,6 juta ton atau turun 2,6 persen dibanding periode yang sama 2014 sebesar 19,2 juta ton. Sedangkan pada September 2015, katanya, penjualan Semen Indonesia mencapai 2,49 juta ton atau naik 1,5 persen dibanding periode yang sama 2014 yang mencapai 2,45 juta ton. Sebagai imbas tertekannya ekonomi pada 2015, Semen Indonesia tak mengurangi produksi, tapi malah mengekspor semen produknya sebanyak 500 ribu ton ke sejumlah negara.

Proyeksi bisnis semen nasional di 2016, Suparni mengatakan, tahun ini merupakan tahun harapan bagi industri semen. Pasalnya, semester kedua 2015 sudah mulai tumbuh permintaan semen di pasar nasional. Yang menjadi faktor pendorongnya adalah proyek infrastruktur mulai berjalan.