Lewat KKN, Ubhara Uji Kompetensi Sosial Mahasiswa

GN/FATHURROCHMAN AL AZIZ Pertemuan dengan rektor dimanfaatkan mahasiswa berfoto- ria.

GN/FATHURROCHMAN AL AZIZ
Pertemuan dengan rektor dimanfaatkan mahasiswa berfoto- ria.

MOJOKERTO-Rektor Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya Drs Edy Prawoto SH MHum, Jumat (22/1/2016), didampingi Wakil Rektor Dr A Djoko S, SH M.H melakukan sidak ke lokasi dimana ratusan mahasiswa mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Bendunganjati dan Mojokembang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Seperti apa suasananya?

Tepat pukul 10.00 WIB, rombongan orang nomor satu di Ubhara itu tiba di lokasi. Beberapa dosen pembimbing lapangan yang ada di posko tampak datang menyambut. Setelah briefing beberapa menit di posko, Edy Prawoto dengan didampingi para dosen pembimbing lapangan kemudian mengunjungi posko para mahasiswa. Lokasi pertama di Dusun Pringwulung, Desa Bendunganjati.

Setelah melalui jalanan menurun dan berbatu, tibalah rombongan di posko mahasiswa di Dusun Pringwulung. Para mahasiswa pun langsung berdatangan menyambut begitu tahu yang datang bukan hanya dosen, tapi rektor mereka. Pertemuan pun berlanjut dengan dialog bebas nan gayeng antara rektor dan mahasiswa.

Meski menghadapi beberapa kendala seperti bahasa dan kesulitan komunikasi pakai handphone akibat lemahnya sinyal, Koordinator Dusun Pringwulung Fikri Dani dan rekan-rekannya mengatakan, keberadaan mereka bisa diterima dengan baik warga setempat. Termasuk saat berikan penyuluhan kesehatan, bimbingan belajar pada anak-anak, mengajari ibu membuat kue terbuat dari ketela rambat. Rektor juga memberikan perhatian pada ekonomi kreatif yang mengembangkan bakpao terbuat dari ketela rambat yang banyak dihasilkan daerah tersebut. “Mau dikasih nama apa bakpaonya, satu resep itu berapa biayanya yang dikeluarkan harus dijelaskan secara detil supaya yang diberi penjelasan tertarik,” pesan rektor.

Dalam kesempatan tersebut, rektor yang pernah menjabat sebagai Kasat Binmas Polwiltabes Surabaya ini kembali mengingatkan tujuan para mahasiswa diikutkan dalam KKN. “Jadi tujuan kita lembaga sebenarnya memprogramkan KKN ini untuk melengkapi kalian dari aspek kompetisi sosial. Kalau kompetensi akademis kan sudah di kelas. Belajar di kampus dengan di tengah masyarakat seperti ini kan beda rasanya,” ujar Edy Prawoto. Di akhir dialog, rektor pun meminta kritik, masukan, saran, untuk lembaga. “Supaya pelaksanaan KKN bisa lebih baik lagi ke depan,” ujar Edy.

Dari Pringwulung, rektor dan para dosen berpindah ke posko mahasiswa yang ada di Dusun Mungkut, Desa Bendunganjati. Seperti halnya di Dusun Pringwulung, rektor pun mengajak para mahasiswa berdialog seperti di lokasi yang pertama. Koordinator Dusun Mungkut Ahmad Zaenul menceritakan, keramahan warga dalam menyambut para mahasiswa KKN. “Masyarakat di sini sangat antusias, kalau ada kegiatan suka mengundang kami,” ujar Zaenul. “Kalau masyarakat di sini paling banyak buruh tani, tapi ada juga yang pemilik. Di dusun sini kental dengan suasana keagamaan,” jelas mahasiswa semester V ini.

Rektor pun menanyakan berkaitan dengan kondisi keamanan dan ketertiban dusun tersebut. Sekadar diketahui, KKN Ubhara Surabaya memiliki ciri khas yakni adanya upaya untuk membangun sinergi dengan masyarakat dalam menjalankan konsep Perpolisian Masyarakat (Polmas).
Zaenul pun menceritakan kalau ia bersama rekan-rekannya juga membuat pastel terbuat dari ketela. “Kami beri nama pastel ini “Pastela”, pastel terbuat dari ketela,” ujar Zaenul.

Di akhir dialog, Edy pun kembali meminta masukan sebelum akhirnya kunjungan ke posko mahasiswa lainnya terpotong jeda shalat Jumat. Kunjungan kembali berlanjut ke Dusun Bendorejo usai shalat Jumat.
Koordinator Dusun Bendorejo Nurul Afiyah mengatakan, selama kurang hampir seminggu di loaksi tersebut sudah menjalankan beberapa program seperti pembuatan papan nama, pengecatan gapura desa.

Nurul menceritakan, ia bersama rekan-rekannya membuat keripik yang terbuat daun ketela. Cuma ada yang membuat para mahasiswa ini merasa geli. Ketika mencari daun ketela, warga malah ada yang balik bertanya. “Ini (daun ketela) nggak dipake, di sini dibuat makan sapi,” tutur Nurul Afiyah menirukan perkataan salah seorang warga setempat. Yang paling menyenangkan, menurut Nurul, keripik ketela ini oleh Bu Lurah mau dibawa ke posyandu. “Nanti katanya mau dijual pas saat pembukaan ruko

Bendorejo merupakan dusun di Desa Bendunganjati yang terakhir dikunjungi. Dari tempat itu, rombongan bergerak menuju Desa Mojokembang dimana juga terdapat mahasiswa tinggal di posko Mojo I dan Mojo II.

Asal tahu saja, untuk menuju Desa Mojokembang, rombongan harus melalui jalan menurun yang sangat curam dan serta berkelok-kelok yang cukup tajam. Ditambah jalanan yang sebagian masih rusak karena belum diperbaiki.
Setelah melalui medan yang cukup berat, akhirnya rombongan tiba di Desa Mojokembang. Di lokasi ini, mahasiswa pun ditempatkan dalam dua posko, Mojo I dan Mojo II. Namun pertemuan dengan rektor ditempatkan di posko Mojo I.

Dalam kesempatan itu, bersama rekan-rekannya, Koordinator Dusun Mojo I Ahmad Dika Pratama dan Koordinator Dusun Mojo II Hauwin mengungkapkan senangnya mereka mengikuti program pengabdian pada masyarakat tersebut. “Antusiasme warga di sini berpartisipasi program kita sangat tinggi, terutama anak-anak yang ikut bimbel,” ujar Hauwin. “Moment tak terduga seharusnya pada hari pertama, kita hanya sosialisasi kalau kegiatannya (bimbel) baru besok, ternyata jam satu (siang) mereka langsung datang,” terang Hauwin menambahkan peserta bimbel mencapai 40 anak.

Rektor Ubhara, Edy Prawoto kemudian meminta para mahasiswa untuk menceritakan nantinya kepada junior mereka tentang pengalaman selama KKN yang ternyata di luar dugaan lebih menyenangkan dari yang mereka kira. “Saya mendengar sebelumnya ada keluhan katanya uang tidak cukup, jadi ada upaya mendiskreditkan lembaga,” ungkap Edy. Seperti di tempat sebelumnya, rektor meminta para mahasiswa untuk memberikan masukan kepada lembaga. “Supaya KKN berikutnya lebih baik lagi,” pungkas Edy Prawoto. (zis)