‘Instruktur Wajib Pahami Filosofi Ling Tien Kung!’

GN/F. Al Aziz Para instruktur berfoto bersama

GN/F. Al Aziz
Para instruktur berfoto bersama

SIDOARJO (Global News)-Jumlah instruktur Ling Tien Kung Cabang Sidoarjo terus bertambah. Sebanyak 28 instruktur baru dilantik di area Pazkul, Perumahan Kahuripan Nirwana Village (KNV), Sidoarjo, Sabtu (9/1/2016).

Dari 28 instruktur baru yang dilantik, akhir pekan kemarin, satu orang dari Kabupaten Probolinggo.
Dalam pelantikan instruktur baru yang berlangsung sederhana nan guyub tersebut, Koordinator Ling Tien Kung Sidoarjo Drs Edy Prawoto SH MHum menekankan, amat pentingnya instruktur agar memiliki tiga kemampuan.

Kemampuan pertama yang harus dimiliki seorang instruktur adalah komunikasi atau marketing. “Ini penting, karena biasanya orang baru masuk Ling Tien Kung diajari macam-macam seperti macam kita menggurui, dia tidak suka itu, jadi masalah psikologis seperti ini yang harus dipedomani para instruktur,” ujar Edy Prawoto dalam sambutan.

Kedua, supaya komunikasi bisa nyambung, para instruktur harus memiliki pemahaman yang utuh. “Instruktur harus memahami filosofi Ling Tien Kung, jangan sampai terjadi bias. Ling Tien Kung bukan olahraga biasa. Ini yang perlu dipahami. Yang diajarkan Ling Tien Kung adalah masalah yang abstrak, yang tidak kelihatan. Ini yang selalu diulang-ulang Lao Shi. Karena yang akan kita terapi tidak kelihatan. Yang lain kelihatan, tapi yang diterapi LingTien Kung tidak kelihatan. Yang kita terapi adalah energi, tidak kelihtan tapi bisa dirasakan,” ujar Edy.

“Ini harus dipahami, jangan sampai bias, karena kalau sampai bias nanti gerakan akan ditambahi, dikurangi begini begitu. Kalau sudah bias, ke depan nanti pasti akan terjadi penurunan kualitas. Artinya Ling Tien Kung jadi tidak bisa menyembuhkan,” ungkap pria yang juga Rektor Universitas Bhayangkara Surabaya ini.

Ketiga, instruktur harus memiliki keterampilan teknis. “Gerakan gerakan yang sudah diajarkan harus terus dilatih dari hari ke hari. Supaya saat mengajar bisa memberikan contoh gerakan gerakan yang benar. Karena ada juga sebagian instruktur yang kurang semangat saat latihan, seperti melakukan gerakan angkat kaki seperti bango, karena nggak bisa, lalu pegangan motor. Nah, nanti dikira kalau gerakan bango pakai pegangan motor, akan terjadi kesalahan. Karena itu instruktur harus terus berlatih,” ujar Edy Prastowo.

Berperan sebagai ujung tombak, seluruh instruktur, menurut Edy, harus memiliki komitmen. “Instruktur harus punya komitmen dan tanggung jawab untuk menularkan ilmu Ling Tien Kung ini kepada sesama,” kata Edy Prastowo.
Tak hanya komitmen, instruktur juga dituntut untuk bekerja keras, seperti meningkatkan kemampuan teknis yang dimiliki. “Tidak bisa instruktur diam bermalas-malas di rumah. Kalau kita sudah punya ilmu hukumnya wajib untuk menularkan ilmu kepada yang lainnya,” tegas Edy.

Dalam kesempatan itu, para instruktur juga diminta untuk saling bekerjasama atau bersinergi. “Suatu misal jika ada teman instruktur datang ke sasana yang dikelolanya, jangan sampai ada instruktur berpikiran itu sasana yang dikelolanya tidak boleh ada yang lain datang ikut melatih. Sasana itu milik masyarakat setempat, siapapun bisa masuk sasana tersebut,” tegas pensiunan perwira tinggi polisi ini. Edy juga meminta instruktur agar tidak merasa paling hebat.

“Tolong ini diperhatikan, di atas langit masih ada langit, ada yang lebih tinggi dari kita, ada yang lebih hebat dari kita. Tanpa bersinergi, Ling Tien Kung tidak mungkin berkembang. Instruktur adalah ujung tombak Ling Tien Kung. Masyarakat masih membutuhkan kita, banyak yang tidak punya uang, sekarang biaya rumah sakit mahal, padahal dengan terapi Ling Tien Kung, kita bisa ikut menyehatkan masyarakat,” ungkap Edy.

Hadir dan ikut memberikan sambutan dalam pelantikan tersebut, pencipta terapi Ling Tien Kung, Fu Long Swie. Mantan atlet nasional pada era 1960-an mengisahkan bagaimana kesembuhan yang diberikan Tuhan kepada dirinya melalui terapi Ling Tien Kung. “Percayalah Ling Tien Kung merupakan metoda penyembuhan yang aneh tapi nyata,” ujar pria akrab disapa Lao Shi ini. Namun, Lao Shi kembali mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menyatakan terapi Ling Tien kung merupakan yang paling atau bagus di antara terapi yang ada. “Sebagai instruktur, anda semua tidak boleh sok,” tegas pria kelahiran Singaraja.

Pria kelahiran 25 Oktober 1935 ini kembali mengungkapkan, di Ling Tien Kung, setiap tahun, selalu menyelenggarakan pelatihan. “Harapannya tentu saja terjadi peningkatan kompeten dan kualitas (instruktur) yang meningkat,” ujar Lao Shi.
Sekretaris Umum Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sidoarjo, Suwignyo, SH yang diundang hadir, mengungkapkan, dari 36 jenis olahraga rekreasi yang dibina, hanya Ling Tien Kung Sidoarjo yang baru menyelenggarakan pelantikan. “Menurut pengamatan FORMI dan pemkab, Ling Tien Kung banyak membantu menyehatkan masyarakat Sidoarjo,” ujar pria akrab disapa Wignyo tersebut. “Harapan kami Ling Tien Kung bisa berada di tiap desa, tiap kecamatan. FORMI Sidoarjo siap mendukung,” kata Wignyo.

Salah satu instruktur yang didapuk menjadi juru bicara peserta yang baru dilantik, Drs Moch Mansyur MM PD menceritakan pengalamannya hingga akhirnya bergabung dengan Ling Tien Kung. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pengaruh terapi ciptaan Fu Long Swie tersebut. “Ini juga karena di tempat kami pesertanya 85 tapi instrukturnya masih pakai baju putih biru, jadi belum tersertifikasi,” ujar Mansyur. (Fathurrochman Al Aziz)